Selamat Datang di Taman Biografi Ulama dan Habaib. Barakallahu Lana wa Lakum

Selamat Datang di Taman Biografi Ulama dan Habaib. Barakallahu Lana wa Lakum

Minggu, 02 Desember 2012

Perjumpaan al-Habib Mundzir bin Fuadz al-Musawa dengan Waliyullah Malaysia


Perjumpaan al-Habib Mundzir bin Fuadz al-Musawa dengan Waliyullah Malaysia



Al-Habib Mundzir al-Musawa sering berkunjung pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus manakala beliau sedang berada di Malaysia. Al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus sangat gembira jikalau ada al-Habib Mundzir datang.
Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus selalu tersenyum gembira. Sesaat kemudian al-Habib Munzdir meminta doa dari beliau, maka beliau pun berdoa untuknya. Biasanya al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus selalu menolak untuk berdoa kecuali tamunya yang mesti berdoa, namun permintaan kali ini tak ditolak oleh beliau seraya mengangkat kedua tangannya setinggi-tingginya hingga ke atas kepala. Kedua telapak tangannya dipadukan, dan wajah beliau menunduk. Suara rintih keluar dari bibirnya tak bisa dipastikan apa yang diucapkannya. Benar-benar gerakan doa yangg menggambarkan posisi yang sedang sangat mengemis pada Dzat Yang Maha Luhur. Belum pernah al-Habib Mundzir melihat seseorang yang berdoa dengan posisi sekhusyu’ dan seperti ini dalam merendahkan dirinya pada Allah Swt.
Setelah itu al-Habib Mundzir pamitan seraya berkata lembut: “Saya pamit wahai Habib...”
Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus menunduk dan berkata dengan lembut pula: “Tidak makan dulu kah?”
Al-Habib Mundzir menjawab: “Saya pamit jika habib ridho.”
Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus pun berdiri dan mengizinkan kepergian al-Habib Mundzir, lalu terbersit dalam hati al-Habib Mundzir: “Aku terbebani hutang sangat besar karena masalah perluasan dakwah di Indonesia, mudah-mudahan kedatanganku ke sini bisa membuat Allah menyelesaikan masalah hutang-hutangku, beban beratku ini kutumpahkan pada al-Habib Ali, semoga Allah Swt. meringankanku”, demikian renungan al-Habib Mundzir saat itu sambil melangkah keluar dari kediaman beliau.
Saat itu al-Habib Mundzir tidak sendiri, ada beberapa orang yang bersamanya. Mereka berkata: “Kami sering kunjung ke sini, belum pernah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus mau berdoa kecuali saat kamu yang memintanya, belum pernah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus izinkan kami pamitan di waktu makan kecuali saat kamu yang minta izin pulang.”
Dan salah satu diantara mereka adalah seorang pengusaha yang sukses. Maka ketika al-Habib Mundzir beserta rombongan sudah keluar rumah, al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus memanggil orang itu dan membisikinya sesuatu, lalu beliau masuk ke dalam rumah.
Orang tersebut mendatangi al-Habib Mundzir dan berkata: “Habib Ali berkata pada saya, kamu punya hutang dakwah yang besar dan berat yang harus dibayarkan. Saya diperintah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus untuk melunasi semua hutangmu.”
Al-Habib Mundzir kaget dan berpaling pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus, namun beliau sudah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Di lain waktu, al-Habib Mundzir datang bersilaturrahim pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus. Dalam kepala al-Habib Mundzir penuh dengan permasalahan dakwah bagai gunung yang menindih, kesibukan, masalah perluasan dakwah, pengaturan dakwah dan lain sebagainya. Maka ia datang dengan lemah, duduk di hadapan al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus. Maka al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus terdiam, diam, lalu menggeleng-gelengkan kepala beliau, lalu menangis, dan berkata: “Berat… berat..,” sambil mengipasi dirinya dengan kipas di tangannya dan mengipasi al-Habib Munzir pula.
Tak lama kemudian al-Habib Mundzir meminta pamit untuk undur diri. Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus pun mengangkat kedua tangannya untuk berdoa mendoakan al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa.
Belum sampai al-Habib Mundzir di Jakarta, seluruh masalah dakwah beliau ternyata telah terselesaikan. Ini adalah kisah nyata betapa dahsyatnya doa shalihin.

Catatan tambahan: Al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus adalah seorang waliyullah kelahiran Purwakarta, Jawa Barat pada tahun 1919 M dan pernah lama tinggal di Subang Jawa barat di masa kecilnya. Beliau wafat pada Kamis petang, tanggal 28 Jumadil Akhir 1431 H (13 Mei 2010 M), 40 hari setelah kewafatan al-Quthb al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (Jeddah).

Sya’roni as-Samfuriy, Indramayu 18 Muharram 1434 H

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar