Selamat Datang di Taman Biografi Ulama dan Habaib. Barakallahu Lana wa Lakum

Selamat Datang di Taman Biografi Ulama dan Habaib. Barakallahu Lana wa Lakum
Tampilkan postingan dengan label ULAMA SEMARANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ULAMA SEMARANG. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Januari 2013

Kisah Mbah Cholil Rembang dan Abah Dimyati Ro'is Kaliwungu



Kisah Mbah Cholil Rembang dan Abah Dimyati Ro'is Kaliwungu



Oleh: KH. Usman Arrumy

Demikianlah, Mbah Cholil adalah salah satu Kyai kharismatik sekaligus menjadi idola saya setelah ''KH. Dimyati Ro'is Kaliwungu'' yang memang merupakan guru dimana banyak sekali aku mencecap ilmu yang Abah Dim ajarkan.

Aku merasa beruntung bisa sempat mendengar taushiyah Mbah Cholil saat dimana beliau diundang Abah Dim di halaman Pesantren al-Fadlu Jagalan Kaliwungu dalam rangka Imtihan Akhirussanah, bahkan sebelum Mbah Cholil wafat beliau selalu mengisi  taushiyah tiap tahunnya di pondok yang diasuh Abah Dim itu. Karena mungkin Mbah Cholil dan Abah Dim mempunyai hubungan yang erat dimana saat keduanya sama-sama menjabat sebagai DPR RI.

Lebih dari itu, pernah saat Mbah Cholil menyampaikan taushiyah beliau ''gasaki'' (meledek) Abah Dim: “Kyai kok sandalnya jepit, kyai  itu seperti aku, sandalnya mahal harganya”, lalu santri-santri tertawa semua. Setelah Abah Dim yang naik podium Mbah Cholil gilirannya untuk digasaki dengan nada super guyon.

Melihat kedua kyai tersebut, aku sempat berdoa bernada memaksa: “Gusti mbok kulo didasoken kados beliau berdua, umpami mboten lajeng kulo bade dados nopo...” (Rabbi seyogyanya saya dijadikan seperti beliau berdua. Seumpama tidak seperti mereka lantas aku mau jadi apa...)..

Malah saya pribadi sempat didawuhi sendiri sama Abah Dim: “Awakmu kudu wani rekoso nak kepengen ilmumu barokah...” (Kamu harus berani hidup susah kalau ingin ilmumu berkah).

Salah satu dawuh beliau kepadaku yang lain adalah: “Awakmu ojo minder karo mahasiswa, ojo cilik ati karo wong seng wis nduwe title sarjana, aku wae seng ora nduwe ijazah SD iso dadi DPR RI 3 periode (15 tahun), aku siji-sijine wong sak ndunyo seng mlebu DPR tanpo nggowo ijazah.” (Kamu jangan minder dengan mahasiswa, jangan berkecil hati dengan orang yang memiliki titel sarjana. Aku saja tidak punya ijazah SD bisa menjadi DPR RI 3 periode/15 tahun. Aku satu-satunya orang yang ada di dunia ini yang masuk DPR tanpa menggunakan ijazah).

Begitulah cara Abah Dim memberi semangat kepadaku waktu aku sowan. Suatu ketika aku sowan kepada beliau bersama orang banyak dari segala lapisan, beliau dawuh: “Akhir-akhir iki aku kok jarang dikirimi fatihah”, (akhir-akhir ini kok saya jarang dikirimi al-Fatihah) sambil menatapku tajam dengan tatapan yang teduh. Memang saat itu sudah sekitar 10 hari aku tidak kirim al-Fatihah kepada beliau.

Dan masih banyak kisah yang aku alami bersama Abah Dim secara langsung, mudah-mudahan lain kali bisa menceritakan apa saja yang berkenaan dengan Abah Dim secara totalitas.

Kembali pada Mbah Cholil, Kyai yang saat masih muda terbilang ndablek (nakal) ini ternyata sampai tuanya juga masih MBELING, inilah sekelumit cerita tentang Mbah Cholil.

Sewaktu mondok di Lirboyo, partner mbeling terdekat Kyai Cholil adalah Gus Miek (Kyai Chamim Jazuli). Pernah, ditengah pelajaran Madrasah, Santri Cholil yang tempat duduknya didekat jendela, disapa Gus Mik dari luar.

“Keluar, Gus!” kata Gus Mik, setengah berbisik.

“Ada apa?”jawab Mbah Cholil.

“Nonton bioskop… ada filem bagus!” sahut Gus Miek.

“Masih pelajaran ini…” Mbah Cholil menjawab dengan nada ragu.

“Lompat saja!” timpal Gus Miek.

Ketika guru menghadap papan tulis, Santri Cholil melompat keluar dari jendela. Santri-santri lain tak berani menegur tingkah gus-gus itu.

Jauh di belakang hari, ketika Gus Miek sudah melejit reputasinya sebagai seorang wali keramat yang khoriqul ‘aadah, di tengah-tengah Konbes NU di Pondok Pesantren Ihya ‘Ulumiddin, Kesugihan, Cilacap, seorang Kyai Kediri yang dulunya juga anggota geng santri mbeling di Lirboyo mendatangi Kyai Cholil di penginapan. “Dapat salam dari Gus Miek, Gus”.

“Lhah, dia nggak ikut Konbes?” balas Mbah Cholil

“Datang sih…” Kyai itu melanjutkan.

“Mana orangnya? Kok nggak nemuin aku?” tanya Mbah Cholil penasaran.

“Nggak mau. Sampeyan tukang nggasak (tukang meledek) sih… kalau sampeyan ledek, bisa-bisa badar (gagal) kewaliannya…” jawab Kyai utusan Gus Miek itu.

***

Suatu kali, Mbah Lim almarhum (Kyai Muslim Rifa’i Imam Puro, Klaten) yang terkenal wali, datang mengunjungi Gus Mus. Seorang pendhereknya (santri yang mengikutinya) diutus untuk memberitahu Kyai Cholil.

“Mbah Lim ada di rumah Gus Mus, Yai”, kata si pendherek kepada Kyai Cholil, “Panjenengan dimohon menemui…”

“Nggak mau! Sama-sama walinya kok!” timpal Mbah Cholil.

Setelah dilapori, Mbah Lim segera beranjak menemui Kyai Cholil. “Sesama wali” berangkulan sambil tertawa-tawa.

“Wali anyar… wali anyar…”, kata Mbah Lim, “Bodong ‘ki… Bodong ‘ki…”

***


Konbes NU di Bandarlampung kebingungan memilih Rais ‘Aam baru. Kyai Achmad Shiddiq telah wafat, Kyai Ali Yafie mengundurkan diri. Kyai Yusuf Hasyim, calon terkuat, didelegitimasi keponakannya sendiri.

“Pak Ud itu bukan ulama, tapi zu’ama”, kata Gus Dur, “Beliau termasuk santri korban revolusi… ngajinya kocar-kacir!”

Konbes pun kehilangan arah. Dikerumuni wartawan, Kyai Cholil melontarkan statement, “Istikhoroh saja!”

“Bagaimana caranya?” wartawan bertanya penasaran.

“Pilih 40 orang kyai ahli riyadhoh (tirakat). Beri kesempatan mereka beristikhoroh. Sesudah itu, saling mecocokkan isyaroh yang didapat masing-masing…” jawab Mbah Cholil.

“Kalau diantara 40 kyai itu hasil istikhorohnya berbeda-beda bagaimana?” balas wartawan dengan nada tak puas.

“Ya divoting!” jawab Kyai Cholil mantap.
  
 ****

Demikianlah, semoga bermanfaat...

Diedit ulang oleh Sya’roni As-Samfuriy, Indramayu 12 Rabi’ul Awwal 1434 H

Minggu, 09 Desember 2012

Mbah Kyai Musyafa’ Orang Gila yang Penuh Karomah

Mbah Kyai Musyafa’ Orang Gila yang Penuh Karomah

 

 


 


Sebelum dikenal sebagai Wali, Mbah Kyai Musyafa’ dianggap orang gila. Namun kemudian banyak orang yang menemukan karomahnya. Karena itu, setelah dia meninggal, makamnya kerap didatangi peziarah.


Kota Kaliwungu, tepatnya di wilayah Kecamatan Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, tampak sangat anggun bila dilihat dari bukit yang terletak di Desa Proto Mulyo, sebelah timur Kampung Gadukan, Kutoarjo, Kaliwungu. Masjid Al-Muttaqin yang berada di pusat kota terlihat sangat dominan dan lebih besar dibanding bangunan lain yang ada di sekitarnya. Menara dan kubah masjid tampak sangat kukuh, seperti menegaskan betapa Allah Swt. Mahabesar.


Dari ketinggian bukit itu, tampak kecantikan kota Kaliwungu yang mempesona. Disana terdapat makam alim ulama dan para penyiar agama Islam tempo dulu. Masyarakat menyebutnya sebagai makam Jabal (bukit), sebuah kawasan perbukitan. Salah seorang ulama besar yang dimakamkan disana adalah Kyai Musyafa’ bin Haji Bahram.


Seperti halnya makam wali-wali yang lain, makam Mbah Syafa’, demikian beliau biasa disapa, inipun  kerap dikunjungi para peziarah, terlebih pada hari Kamis Wage sore dan Jum’at Kliwon. Pada kedua hari tersebut, ratusan bahkan ribuan peziarah datang ke sana. Santri dari beberapa pesantren juga kerap menjadikannya sebagai tempat untuk melaksanakan riyadhah.


Selama hidup (antara tahun 1920 – 1969), Mbah Syafa’ dikenal sebagai sosok yang zuhud. Ia sangat sederhana, baik dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Kesederhanaannya dalam berpakaian, membuat sebagian orang menganggap Mbah Syafa’ sebagai Kyai yang sangat miskin. Tidak jarang orang juga mengatakan bahwa Mbah Syafa’ adalah orang gila, karena ia memang kerap berperilaku Khawariqul ‘Adat, yaitu berperilaku di luar kebiasaan manusia pada umumnya.






Anggur Mekkah



Sangkaan orang bahwa Mbah Syafa’ adalah orang gila sudah terdengar sebelum masyarakat mengetahui karomah dan kewaliannya. Pada suatu hari tetangga di sekitar rumah Mbah Syafa’ dibikin geger. Pasalnya setelah musim haji, ada seorang haji yang datang ke sana, ia mengaku dititipi anggur oleh seseorang di Mekah untuk diserahkan kepada Mbah Syafa’, yang baru saja menunaikan ibadah haji di Mekah. Padahal tetangga Mbah Syafa’ menyaksikan sendiri, selama musim haji itu Mbah Syafa’ berada di rumahnya.

Sejak itu pandangan orang pada dirinya berubah, apalagi setelah karomah-karomahnya disaksikan orang-orang di sekitarnya. Suatu saat Mbah Syafa’ menjamu tamu yang datang. Masing-masing tamu menuang sendiri air minum dari ceret yang sudah disediakan. Anehnya air minum yang berasal dari satu ceret itu dirasakan berbeda-beda oleh tamu yang minum.

Dalam kisah yang lain, suatu ketika pada 1960-an, Mbah Syafa’ kedatangan seorang tentara. Tentara itu bermaksud memohon restu, karena sebagai pembela negara dia mendapat tugas ikut dalam rombongan pasukan Trikora yang akan membebaskan Irian Jaya dari pendudukan Belanda. Saat dia sampai di tempat tinggal Mbah Syafa’, dan mengemukakan maksudnya, Mbah Syafa’ tidak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya mengambil sebuah wajan yang telah dibakar hingga merah membara.

Oleh Mbah Syafa’ wajan itu didekatkan ke kepala orang tersebut sambil dipukul beberapa kali. Sesaat kemudian beliau masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa tiga buah biji randu (klentheng), lantas menyerahkannya pada orang itu. Orang tersebut tidak mengerti apa maksud Mbah Syafa’, namun ia tetap menyimpan biji randu pemberian Mbah Syafa’.

Di belakang hari, isyarat tersebut bisa diketahui setelah kapal yang ditumpangi tentara Indonesia hancur di tengah laut. Namun atas izin Allah orang tersebut selamat.

Dalam kisah yang lain diceritakan pada 1940-an, suatu hari Mbah Syafa’ menggali tanah hingga dalam. Orang-orang di sekitarnya merasa heran dengan apa yang dikerjakannya itu. Sebagian mengira tempat itu akan digunakan untuk memelihara ikan, sebagian yang lain menyangka akan dibuat sumur.

Setelah beberapa saat, orang baru sadar bahwa Mbah Syafa’ mengetahui peristiwa yang bakal terjadi belakangan. Karena tidak lama berselang, tentara Jepang menyerbu daerah Kaliwungu, dan lubang itu dipergunakan sebagai tempat persembunyian orang-orang yang ada di sekitarnya.

Berbagai peristiwa aneh terjadi termasuk setelah ia meninggal dunia pada 13 Maret 1969 (seperti yang tertulis pada nisannya). Suatu ketika saat sedang membersihkan Balai Desa Krajan Kulon, Mbah Rasyid, tukang sapu kantor tersebut, ditemui  Mbah Syafa’ tanpa berbincang apapun. Mbah Syafa’ memberinya uang seribu rupiah, padahal ia telah meninggal dunia. 
Anehnya, ketika sudah dibelanjakan, uang itu tetap utuh dan tetap ada di saku Mbah Rasyid begitu ia sampai di rumah. Hal itu berulang hingga tiga kali, membuat gundah Mbah Rasyid. Hatinya baru tenang setelah uang itu ia kembalikan ke kuburan Mbah Syafa’.

Jumat, 19 Oktober 2012

Kyai Sholeh Darat dan RA Kartini



Kyai Sholeh Darat dan RA Kartini


Seusai salah satu pengajian Tafsir al-Fatihah yang disampaikan Kyai Sholeh Darat yang dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Demak, seorang gadis usia belasan memberanikan diri menemui sang Kyai. Ia adalah putri Bupati Jepara, salah seorang wanita  yang kini menjadi salah satu Pahlawan Nasional karena dianggap telah berjasa memperdayakan perempuan, hingga namanya kini menjadi ikon perjuangan emansipasi wanita di negeri ini. Dialah Ibu Kita Kartini.
“Romo Guru yang mulia!” Kartini membuka maksud. “Selama hidup saya, barulah kali ini ananda sempat mengerti makna surat al-Fatihah, induk al-Qur’an itu. Begitu besar rasa syukur ananda kepada Allah Swt. Namun sayang Romo Guru, ananda tak habis pikir, mengapa selama ini kita belum menerjemahkan al-Qur’an dalam bahasa Jawa? Bukankah al-Qur’an merupakan petunjuk bagi segenap manusia?”
Kartini menarik nafas dalam-dalam. Suasana sunyi. Kyai Sholeh Darat tersenyum mendengar pertanyaan gadis yang terkenal kritis itu.
“Teruskan anakku!”. Pancing Kyai Sholeh.
“Jadi, hemat saya, orang-orang Jawa seperti saya perlu mengerti dan memahami isi kitab suci itu, terutama melalui jalan Eyang Romo Guru terangkan dalam pengajian tadi. Apalagi Ramanda saya ikut bersyukur atas minat Amanda mendalami al-Qur’an. “
“Baiklah! Apakah ada pertanyaan lagi, wahai anakku?”. Kyai Sholeh masih menangkap gurat kegelisahan pada wajah Kartini.
“Begini Romo Guru. Khusus tentang penerjemahan dan penafsiran al-Qur’an dalam bahasa Jawa itu, apakah ada syarat-syarat bagi orang yang dianggap cukup sebagai ahli di bidang tersebut?”.
“Sungguh, anakku Kartini!. Tidak sedikit bilangannya. Syarat-syaratnya sungguh berat. Antara lain, orangnya harus menguasai Bahasa Arab yang khas dengan al-Qur’an lengkap dengan nahwu, sharaf, badi’, ma’ani, bayan, balaghah, isti’arah, lengkap dengan keilmuan lainnya”. Terang Kyai Sholeh Darat sambil tersenyum.
“Tapi Romo Guru sudah ahli dan menguasai ilmu-ilmu itu? Maka sekarang ananda mohon sudi kiranya Romo Guru berkenan segera menulis untuk bangsa kita pada umumnya berupa kitab terjemah dan tafsir al-Qur’an dalam Bahasa Jawa. Sebab hal itu akan menjadikan mereka memahami bisikan suci dari kitab tuntunan hidup mereka. Dan Romo Guru akan besar sekali jasanya”.
Mendengar permintaan Kartini, raut wajah Kyai yang berseri itu, seketika tumpah air mata, menangis haru mendengar permintaan gadis aristocrat itu.
Bermula dari dialog di Pendopo Kabupaten Demak itu, setahun berikutnya kitab yang diidam-idamkan Kartini terbit. Judulnya “Faidhurrahman fi Tafsir al-Qur’an”. Kitab karya Kyai Sholeh Darat ini berukuran folio, dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894. Terdiri dari dua jilid. Kitab ini menjadi referensi pribumi Jawa yang bermukim di tanah Melayu. Bahkan kaum muslimin di Pattani, Tailand selatan juga memakai kitab ini. Ditulis dengan huruf Arab Pegon, kitab tersebut dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat yang menjabat sebagai Bupati Rembang.
Kyai Sholeh Darat wafat pada tanggal 28 Ramadlan 1321 H/18 Desember 1903 M. dimakamkan di komplek pemakaman umum Bergota Semarang.
Kisah ini adalah shahih, dinukil oleh Prof.  KH. Musa Al-Machfud Yogyakarta, dari Kyai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kyai Sholeh.

Sumber: Majalah Bulanan AULA Edisi April 2012 hlm. 21